setiap profesi emang ada susahnya masing-masing.. ada tantangannya masing-masing. trus, emang bener kata orang, kita ga boleh ngeremehin pekerjaan orang. inilah yang baru terjadi sama gw di kantor. walopun judul profesinya sama-sama reporter, tapi jadi reporter di majalah itu emang banyak klasifikasinya. kalo gw, gw ditakdirkan untuk jadi reporter feature yang tugasnya meliput berita-berita, menulis berita-berita yang mencakup seni, profil, sosial, dan kawan-kawan segolongannya. nah, beda sama reporter beauty yang tugasnya meliput produk-produk kecantikan mulai dari produk yang bisa mempercantik rambut, wajah, leher, dada, punggung, tangan, kaki, sampe kuku kaki. gasampe situ, reporter fashion juga punya tanggung jawab melakukan pemotretan beauty yang biasa dinamain “Beauty Spread”. ada satu lagi yang terakhir, yaitu reporter fashion, yang tugasnya meliput acara-acara peluncuran oleksi terbaru musim fall/winter, summer, dan sebagainya yang berhubungan dengan penampilan. sama kayak reporter beauty, reporter fashion juga punya tugas yang lebih berat dibandingkan liputan ‘pelepasan’ koleksi 4 musim-musiman tadi. dia harus bikin fashion spread. kesulitan yang bisa dibayangkan adalah, lo harus mempertaruhkan hidup lo untuk menjaga semua barang-barang pinjaman untuk difoto, karena harga satu helai baju ada yang harganya bisa sampe 20 juta-an.
Nah.. ngomong-ngomong soal tantangan masing-masing profesi.. gw baru aja mengalami rasanya bener-bener berada di “sepatu” temen kerja gw yang namanya Vina… sebagai latar belakang, Vina adalah reporter beauty di kantor gw yang selama hampir setahun ini berjuang bareng bikin majalah dari bulan ke bulan sama gw. Satu bulan yang lalu, dia harus resign karna dia mau berangkat sekolah ke London. The big thing is, dia resign pas redaksi mau menggarap edisi ulang tahun ke-2, which issss… yang biasanya 9 kateren, sekarang jadi 15 kateren! (1 kateren terdiri dari 16 halaman).
Awalnya, pas pembagian tugas.. semuanya seperti biasa aja. belum terasa, karena gw masih kebawa-bawa santai edisi sebelumnya yang baru aja selesai n di-publish. Ketegangan mulai terasa di pertengahan bulan Agustus, dan semakin menggila karena tiba-tiba editor in chief gw mengabarkan kalau percetakan akan segera tutup dari waktu yang diperkirakan, lantaran Hari Raya. Semua yang tadinya masih setengah lari, jadi beneran maraton ga karuan. Karena gw harus wawancara untuk profil, pemotretan special section, liputan, nulis ini nulis itu, plusss nulis laporan produk beauty, pemotretan beauty spread (which I’ve never been done before), dan tulisan-tulisan beauty lainnya.
Gw berharap punya otak ganda.
Apa yang gw prediksi benar-benar terjadi. Di awal bulan ngegarap edisi ultah ini, gw sempet nulis di wall facebook: “tough weeks ahead”. And yes, tough weeks run after me. Arrgghhh.. Drama terjadi, nangis-nangisan, bentak-bentakan, panas-panasan, dsb.. Tapi sekarang, setelah berhari-hari lembur ga jelas.. jam 8 malem, tanggal 26 Agustus 2010, gw uda bisa duduk tenang dan curhat di blog. lega. meskipun temen-temen di artistik sekarang lagi kebagian “bola” dan ketar ketir karena dikejar-kejar percetakan. tapi seridaknya gw udah selesai nulis dan gw bersumpah untuk santai di weekend ini.
Pelajaran yang gw dapet.. Ternyata pekerjaan yang selama ini dilakukan temen gw Vina ga gampang.. Harus nulis detail produk kecantikan satu-satu, minjem barang ke sana kemari, pemotretan yang makan waktu sampe seharian, liputan, dll.. (walopun juga sangat mengutuk kepergian Vina di saat yang tidak tepat).
sekarang, akhirnya gw bisa browsing film terbaru n berencana nonton film 1 jam lagi. senang senang sebelum edisi lainnya datang dan mengejar-ngejar gw lagi. sebelum drama terjadi lagi.
wiiin….gw beberapa kali baca liputan lu di majalah…..nice work ^_^b
thanks ci irma..